...
BERITA TEKNOLOGI

Universitas Indonesia Resmi Buka Program Studi AI

×

Universitas Indonesia Resmi Buka Program Studi AI

Sebarkan artikel ini

Universitas Indonesia resmi buka program studi AI di Fisilkom dan para pakar AI menyambut baik langkah ini. Pakar mengatakan bahwa ini merupakan salah satu kabar yang menggembirakan karena saat ini memang talenta AI di Indonesia ini masih snagatlah kurang.

“Pembukaan Prodi AI di Fasilkom UI menurut saya sebagai seorang pakar AI adalah kabar yang menggembirakan. Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan talenta AI di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan negara-negara lain,” jelas Hilman F. Pardede Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN, seperti yang dikutip melalui detikINET.

Dari total angkatan kerja saat ini, terdapat sekitar 0,06% talenta AI yang ada di Indonesia. Dan angka ini masih berada di bawah negara-negara lain. Seperti misalnya Malaysia yang memiliki talenta AI 0,08%, lalu Singapura yang sudah membiliki sejumlah 0,12% takenta AI.

Namun angka talenta AI di Indonesia tidak terpaut jauh dengan negara besar lainnya. Misalnya seperti Amerika Serikat yang baru tersedia 0,16% talenta AI. Meski begitu, Indonesia tetap membutuhkan lebih banyak talenta AI lagi agar tidak tertinggal lebbih jauh.

Hilman bahkan mengatakan bahwa ia membaca ringkasan muatan kuliah dalam prodi AI UI tersebut. Dalam ringkasan yang dibacanya, ia melihat tidak hanya hal teknis dan teknologi saja yang dimuat, melainkan terkait etika AI serta etika penggunaan AI juga. Sehingga ia sangat menyambut baik langkah Universitas Indonesia resmi buka program studi AI ini.

Prospek Kerja Jangka Panjang Lulusan Program Studi AI

Jika melihat prospek kerja untuk para lulusan program studi AI ini nantinya, Hilman berpendapat bahwa ini akan bergantung pada bagaimana prospek dan jangka panjang AI ke depan. Dilihat dari sejarahnya selama AI hadir, teknologi ini bersifat timbul tenggelam atau bisa naik dan bisa turun.

“Tercatat sudah ada 2 kali periode AI winter, periode di mana kemajuan AI tersendat setelah terjadinya euphoria dan harapan besar yang tidak terpenuhi, mengakibatkan berkurangnya pendanaan dan minat di bidang AI,” ucap Hilman lagi.

Memang, AI winter terjadi sekityar tahun 70-an. Namun bukan berarti penelitian AI tidak berjalan pada periode tersebut. Penelitian terus dilakukan namun antusiasme masyarakat yang tidak terdengar membuatnya tenggelam.

Untuk saat ini, Hilman mengataka bahwa AI sedang berada di puncak euphoria. Namun sama halnya dengan teknologi lain, AI juga pasti akan melewati life cycle-nya sendiri. Pada saat itu, euphoria AI akan menurun karena dianggap sudah tua atau biasa dan digantikan dengan teknologi baru yang akan menjadi tren baru pula.

Namun meski euphorianya sudah selesai, teknologi AI bukan akan berhenti samapai situ saja. Hanya saja kemeriahan atau minat masyarakat seperti yang dirasakan saat ini, tidak akan sama lagi.

Lalu dari sini pertanyaan muncul mengenai keadaan lulusan prodi AI pada saat itu akan bagaimana?

Ditururkan oleh Hilman bahwa isu ini bisa lebih luas di mana masyarakat seharusnya mempertanyakan terkait kondisi lulusan informatika atau ilmu komputer yang mungkin saja menjadi tidak valid di masa depan.

Mengapa demikian? Karena saat ini AI sudah dapat melakukan dan menggantikan berbagai hal yang bisa dilakukan lulusan tersebut, seperti misalnya pemprograman yang merupakan skill unik lulusan informatika dan ilmu komputer.

Karena inilah Hilman mengemukakan pendapatannya di mana pendidikan ang berfokus pada implementasi yang sedang in saat ini jangan sampai melupakan dasar-dasar teknologinya. Kemampuan dasar seperti matematika, statistik, hingga aljabar linear akan mejadi kelebihan yang dimiliki saat harus belajar mengenai teknologi terbaru nantinya.

Seperti yang dikatakan bahwa Informatika dan Ai merupakan bidang ilmu yang mengalami perubahan cepat. Sehingga para lulusannya juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat tersebut.

Sebagai lulusan peneliti Ahli Utama, Hilman percaya jika perkembangan teknologi yang terus berjalan akan terus membuka peran baru di masyarakat. Bahkan saat ini sudah banyak lowongan pekerjaan baru yang hadir karena adanya kecerdasan buatan AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *