WHATSAPP

Cara Setting Greeting Message yang Nggak Kaku Agar Customer Langsung Belanja

×

Cara Setting Greeting Message yang Nggak Kaku Agar Customer Langsung Belanja

Sebarkan artikel ini

Pesan pertama punya peran besar dalam menentukan lanjut atau tidaknya sebuah percakapan. Di WhatsApp Business, greeting message sering jadi pintu masuk interaksi. Sayangnya, banyak yang masih terdengar seperti robot customer service.

Padahal, calon pembeli biasanya membaca pesan awal sambil lalu. Kalau kesannya terlalu formal atau bertele-tele, chat bisa langsung ditinggal. Bukan karena produknya buruk, tapi karena pendekatannya kurang ramah.

Greeting message yang tepat seharusnya terasa manusiawi, ringan, dan mengundang respon. Berikut Cara Setting Greeting Message yang Nggak Kaku Agar Customer Langsung Belanja yang bisa kamu terapin langsung.

1. Gunakan Bahasa Sehari-hari, Bukan Bahasa Kantor

Kalimat kaku memberi jarak sejak awal. Sapaan yang terlalu formal membuat interaksi terasa dingin, apalagi di platform chat seperti WhatsApp.

Gunakan gaya bahasa yang biasa dipakai saat ngobrol. Tetap sopan, tapi jangan seperti surat resmi.

Strawberries

Contoh pendekatan yang lebih hangat:

  • “Halo! Makasih ya udah chat 😊”
  • “Hai, selamat datang di [Nama Toko]”

Nada santai bikin customer lebih nyaman buat lanjut tanya.

2. Jangan Langsung Jualan di Kalimat Pertama

Greeting message bukan etalase promo. Kalau isinya langsung diskon, harga, dan ajakan beli, kesannya terlalu agresif.

Biarkan percakapan mengalir dulu. Bangun rasa disambut, baru arahkan perlahan ke produk.

Urutan yang lebih efektif:

Strawberries

Sapa dulu

Tawarkan bantuan

Arahkan ke kebutuhan

Dengan begitu, customer merasa dilayani, bukan dikejar.

3. Sisipkan Pertanyaan Ringan yang Mengundang Balasan

Pesan satu arah jarang menghasilkan interaksi. Sebaliknya, pertanyaan sederhana bisa jadi pemantik percakapan.

Pilih pertanyaan yang mudah dijawab dan relevan. Hindari pertanyaan panjang atau terlalu teknis.

Contoh yang sering efektif:

“Lagi cari produk apa nih?”

“Boleh tahu kebutuhannya untuk apa?”

Begitu customer membalas, peluang closing langsung naik.

4. Tunjukkan Kamu Benar-benar Siap Membantu

Banyak greeting message berhenti di sapaan saja. Padahal, customer ingin tahu apakah admin responsif atau tidak.

Kalimat kecil yang menegaskan kesiapan membantu bisa memberi rasa aman. Terutama untuk pembeli baru.

Kalimat yang bisa dipakai:

“Aku siap bantu jelasin produknya ya”

“Tanya aja, nanti aku jelasin pelan-pelan”

Kesan responsif sering lebih penting dari harga.

5. Manfaatkan Emoji Secukupnya agar Terasa Human

Emoji bisa jadi jembatan emosi dalam teks. Tapi kalau berlebihan, justru terlihat tidak profesional.

Gunakan 1–2 emoji yang relevan. Pilih yang netral dan umum dipahami.

Emoji yang aman dipakai:

😊 🙌 ✨

👋 untuk sapaan

🛍️ untuk konteks belanja

Sentuhan kecil ini bikin pesan lebih hidup.

6. Hindari Paragraf Panjang di Greeting Message

Greeting message sebaiknya singkat dan mudah dipindai. Paragraf panjang membuat orang malas membaca di awal.

Pisahkan kalimat jika perlu. Biarkan pesan “bernapas”.

Struktur yang nyaman:

2–3 baris pendek

Satu ide per baris

Tanpa penjelasan berlebihan

Ingat, ini pembuka, bukan penjelasan produk.

7. Sesuaikan Gaya dengan Target Customer

Greeting message untuk produk anak muda tentu berbeda dengan produk profesional atau keluarga. Satu gaya tidak cocok untuk semua.

Kenali siapa yang paling sering chat. Dari situ, gaya bahasa bisa disesuaikan.

Contoh penyesuaian:

Anak muda: lebih santai dan ringan

Produk keluarga: hangat dan sopan

Produk profesional: rapi tapi tetap ramah

Semakin relevan, semakin mudah tercipta koneksi.

Greeting message adalah kesan pertama yang menentukan arah chat selanjutnya. Saat pesannya terlalu kaku, peluang belanja bisa hilang bahkan sebelum percakapan dimulai. Sebaliknya, sapaan yang hangat dan natural membuka jalan menuju interaksi yang lebih panjang.

Dengan bahasa sehari-hari, pertanyaan ringan, struktur singkat, dan sentuhan human, greeting message bisa berubah dari sekadar formalitas jadi alat penjualan yang halus. Bukan memaksa beli, tapi mengundang ngobrol.

Kalau WhatsApp Business adalah etalase dan admin adalah wajah toko, maka greeting message adalah senyum pertamanya. Coba evaluasi pesan pembuka yang kamu pakai sekarang, perbaiki dikit demi dikit, lalu lihat bagaimana respon customer mulai berubah. Dari chat santai, ke tanya serius, sampai akhirnya belanja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *