Fakta Mengejutkan! Kenapa iPhone 9 dan Windows 9 Tak Pernah Dirilis? Jika kamu memperhatikan sejarah teknologi, ada dua produk besar yang melewatkan angka 9 dalam versi rilisnya: iPhone dan Windows. Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa Apple dan Microsoft—dua perusahaan teknologi terbesar dunia—tidak pernah merilis iPhone 9 dan Windows 9? Padahal, perangkat sebelum dan sesudah angka tersebut tetap ada.
Fenomena ini telah menjadi bahan spekulasi di kalangan pecinta teknologi selama bertahun-tahun. Mari kita telusuri beberapa alasan mengejutkan di balik keputusan ini.

1. Alasan Strategi Pemasaran dan Brand Positioning
Salah satu teori paling umum yang beredar adalah bahwa keputusan untuk melewati angka 9 merupakan strategi pemasaran yang cerdas. Baik Apple maupun Microsoft terkenal dengan inovasi dan branding yang kuat, sehingga mereka selalu memperhatikan detail, termasuk penamaan produk.
Ketika Apple memutuskan untuk langsung melompat dari iPhone 8 ke iPhone X (10), itu mungkin bertujuan untuk menciptakan kesan bahwa mereka sedang melakukan lompatan besar dalam inovasi. Penamaan “X” memberikan nuansa eksklusif dan futuristik, mengingat X sering digunakan dalam budaya populer untuk menggambarkan sesuatu yang canggih atau misterius. Dengan melompati angka 9, Apple ingin menunjukkan bahwa iPhone X bukan hanya penerus iPhone 8, tetapi langkah signifikan menuju masa depan.
Sementara itu, Microsoft juga mengambil pendekatan serupa. Mereka melompat dari Windows 8 langsung ke Windows 10. Langkah ini dipandang sebagai cara untuk merestrukturisasi citra mereka setelah Windows 8 dianggap gagal oleh sebagian besar pengguna. Microsoft seolah ingin memberi sinyal bahwa Windows 10 merupakan versi baru yang sangat berbeda, bahkan melampaui satu versi dari pendahulunya.
2. Kepercayaan Takhayul di Beberapa Negara
Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi angka 9 ternyata memiliki konotasi negatif di beberapa negara, khususnya di Jepang. Dalam bahasa Jepang, angka 9 (九, kyuu) terdengar mirip dengan kata “rasa sakit” atau “penderitaan” (苦, ku). Oleh karena itu, beberapa perusahaan, terutama yang memiliki pasar besar di Asia, sering menghindari penggunaan angka ini untuk produk-produk penting.
Meskipun Apple dan Microsoft adalah perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat, kehadiran pasar internasional yang kuat, termasuk Jepang, mungkin mempengaruhi keputusan mereka. Kepercayaan takhayul dan budaya memang bisa berdampak besar pada pemasaran global, dan angka-angka tertentu sering kali dihindari dalam budaya bisnis.
3. Keselarasan dengan Produk Lain
Pada kasus Apple, keputusan untuk melewatkan iPhone 9 mungkin juga terkait dengan produk mereka yang lain. Pada saat iPhone X dirilis, Apple juga merilis perangkat lunak macOS 10, yang sudah lama menggunakan angka “X” dalam penamaannya. Dengan menggunakan “X” pada iPhone, Apple mungkin ingin menciptakan keselarasan di seluruh lini produk mereka. Penggunaan angka Romawi juga menambah kesan eksklusif dan “premium,” sehingga memperkuat brand positioning mereka sebagai merek kelas atas.
Untuk Microsoft, Windows 9 mungkin sengaja dilewatkan untuk menghindari kebingungan dengan Windows 95 dan Windows 98—dua versi sistem operasi yang sangat populer pada tahun 1990-an. Angka 9 bisa dianggap terlalu mirip dengan versi-versi lawas tersebut, sehingga Microsoft memilih untuk langsung menggunakan Windows 10 sebagai lompatan besar menuju masa depan.
4. Lompatan Teknologi
Baik Apple maupun Microsoft mengklaim bahwa produk-produk mereka yang melewati angka 9 mewakili lompatan besar dalam teknologi. iPhone X, misalnya, memperkenalkan beberapa fitur revolusioner seperti layar penuh OLED dan Face ID. Hal ini menjadikan iPhone X lebih dari sekadar upgrade dari iPhone 8. Bagi Apple, ini adalah perangkat yang sepenuhnya berbeda.
Demikian pula, Windows 10 memperkenalkan banyak perubahan besar, termasuk Cortana, browser baru Microsoft Edge, dan sistem operasi yang lebih terintegrasi dengan perangkat seluler dan cloud. Microsoft ingin menunjukkan bahwa Windows 10 bukan sekadar peningkatan dari Windows 8, tetapi representasi dari masa depan sistem operasi mereka.
5. Keputusan untuk Menghindari Angka Tengah
Secara psikologis, angka bulat sering kali dianggap lebih “lengkap” atau “memuaskan” dibandingkan dengan angka ganjil atau angka tengah seperti 9. Ini mungkin menjadi alasan tambahan mengapa Apple dan Microsoft memilih untuk langsung melompat ke angka 10, yang memberikan kesan lebih final dan signifikan.
Dalam dunia teknologi, penamaan produk memainkan peran penting dalam persepsi konsumen. Penggunaan angka yang “bagus” seperti 10 menciptakan kesan bahwa produk tersebut merupakan sesuatu yang selesai, sempurna, atau “mature,” sementara angka 9 mungkin dianggap sebagai sesuatu yang belum mencapai puncaknya.
Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang sepenuhnya mengkonfirmasi alasan di balik keputusan Apple dan Microsoft untuk melewati angka 9, kombinasi dari strategi pemasaran, budaya, dan teknologi tampaknya berperan besar. Baik iPhone X maupun Windows 10 dirilis dengan tujuan untuk menggambarkan langkah besar menuju masa depan, bukan sekadar kelanjutan dari produk sebelumnya.
Jadi, jika kamu pernah bertanya-tanya ke mana perginya iPhone 9 dan Windows 9, sekarang kamu tahu beberapa fakta dan teori di balik keputusan tersebut. Siapa tahu, di masa depan, mungkin ada produk yang mengejutkan kita dengan “angka hilang” lainnya!